Minggu, 21 April 2019

(Aku) Wanita bijak


Kali ini saya mau sharing tentang bagaimana seorang wanita yang bijak. Wanita dikenal dengan makhluk multitasking. Sharing saya kali ini dari pengalaman yang saya lihat dan amati melalui sebuah kejadian kemarin. Suami, heidy dan saya mendatangi sebuah acara syukuran. Kami datang lebih awal dari yang lainnya (karena salah jam sih ya! 😝) kami datang 1,5 jam lebih awal. Tapi dengan waktu yang cukup banyak ini, kami bisa lebih banyak berinteraksi dengan kerabat kami ini. Acarapun dimulai, semua berjalan dengan baik. Sampai pihak dari keluarga yang punya acara berbicara. Sedikit penjelasan, ini adalah acara batak. Jadi selalu ada acara mandok hata (membuat kata/berbicara). Mandok hata dimulai dari pihak perempuan (hula2 atau parboru), pihak dari marga laki-laki dan borunya, dongan tubu, dongan sahuta. Ketika mertua laki-laki berbicara, ia mengungkapkan apa yang terjadi selama ini pada saat mereka masih tinggal satu rumah yang akhirnya membuat menantu perempuannya memutuskan pembicaraan mertuanya lalu masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras! Kegaduhan pun muncul, semua berusaha menenangkan. Tidak jarang beberapa orang akhirnya berbicara tentang 'kelakuan' si menantu selama ini. Saya hanya melihat, mendengar dan mengamati. Lalu muncul pertanyaan: "Kenapa bisa seperti ini?" Dari kejadian ini, ada beberapa pelajaran yang saya dapat: 1. Wanita memang mempunyai banyak peranan. Sebagai mama, istri, anak, menantu, (karyawan jika wanita itu bekerja). Peranan itu harus berjalan sesuai dengan porsinya. Jika ada satu peranan yang dijalankan tidak sesuai dengan porsinya, maka akan timbul masalah. 2. Menjaga hubungan dengan orang-orang yang berinteraksi dengan kita itu penting. Saat kita sudah mempunyai hubungan yang baik, perbedaan yang mungkin bisa menimbulkan perdebatan itu bisa diminimalisir. 3. Yang terpenting ketika kita mau menjadi wanita yang bijak adalah membangun dan menjalin hubungan dengan Tuhan. Karena sumber dari hikmat itu berasal dari Tuhan. Saat kita punya hubungan yang intens dengan Tuhan, kita akan dimampukan untuk bertindak, berkata-kata, dan membuat keputusan dengan bijak. sekian sharing dari saya. Semoga memberkati

Jumat, 14 Juli 2017

Pasangan hidup yang dari Tuhan (?) - 1

Saya membuka kembali blog ini, dan aaahhhh...ya ampuuunnn sudah hampir satu tahun saya tidak lagi memperhatikan blog ini. Tapi ketika saya membaca-baca lagi postingan saya di tahun-tahun sebelumnya, saya benar-benar merasa "tersentuh" dengan pengalaman yang Tuhan ijinkan terjadi dihidup saya (pengalaman yang kekanak-kanakan sepertinya, tapi saya bersyukur..hahahahha...) Sekarang saya sudah berubah status menjadi seorang istri dan sebentar lagi saya akan menjadi seorang mama. Ini sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan bagi saya. Sedikit flashback, saya menjalin hubungan (berpacaran) dengan lelaki yang menjadi suami saya saat ini 8,5 tahun dan selama 7 tahun kami menjalin hubungan jarak jauh (LDR). Belum lagi sejarah hubungan saya dan suami yang dulu sempat tidak direstui oleh orangtua saya. Masalahnya adalah perbedaan suku (saya perempuan batak dan dia lelaki jawa). Yaaahhh...kebanyakan orang batak (apalagi yang mempunyai anak perempuan) mempunyai harapan besar agar anaknya (borunya) menikah dengan lelaki batak juga. Saya tidak akan menjelaskan sekarang kenapa seperti itu, karena ceritanya akan panjaaaaaaanggg.....Oke, singkat cerita. Dengan hubungan yang tidak direstui itu kami tetap berjalan dan berkomitmen untuk melanjutkan hubungan ini. Kami tahu bahwa alasan untuk memutuskan hubungan hanya karena perbedaan suku bukanlah alasan. Selama tidak menyinggung prinsip, kami akan tetap melanjutkan hubungan kami. Ada kalanya kami mengalami titik rendah dalam hubungan ini. Tapi, tahukah kalian? Bagi saya, salah satu ciri pasanganmu adalah pasangan hidup yang dari Tuhan adalah Jika pasanganmu ada di titik terendah, salah satu dari kalian akan menjadi pasangan yang kuat. Dan itu berlaku sebaliknya. Kalian tidak akan sama-sama kuat pada waktu yang bersamaan. Kalian juga tidak akan sama-sama lemah pada waktu yang bersamaan. Hal itu berlaku dalam hubungan saya dan suami pada waktu itu. Dua, Pada waktu kamu lemah, pasanganmu akan memilih untuk tetap berjalan bersamamu (lemah disini bukan berarti jatuh dalam dosa). Pernah saya merasa putus asa dan memutuskan untuk menjauhi dia, kalau istilahnya BREAK tapi sebenarnya saya ingin menyudahi hubungan saya tanpa harus melukai dia terlalu dalam. Tapi, dia memilih untuk terus melanjutkan hubungan kami meskipun saya bersikeras untuk tidak mau lagi berhubungan dengannya (saya sengaja tidak membalas telepon atau smsnya dan tidak mengabari dia). Tapi ternyata, jika cinta itu berasal dari Tuhan, Tuhan akan terus menumbuhkan cintamu meskipun kalian tidak menjalin komunikasi. Tiga, Ada rasa saling percaya. Percaya atau tidak, seringkali yang curigaan kepada pasangannya adalah kaum perempuan. Saya sih tidak tahu apa alasannya, tapi kebanyakan teman saya bercerita (perempuan) bahwa mereka seringkali merasa curiga pada pasangannya ketika mereka menemukan "sedikit" keanehan. Padahal belum tentu kecurigaan mereka benar. Tetapi berbeda dengan teman-teman perempuan saya yang lain, saya sama sekali tidak pernah curuga padanya meskipun kami menjalin hubungan jarak jauh. Meskipun kadang dia tidak memberi kabar pada saya, saya tetap mempercayai bahwa dia tidak akan "aneh-aneh" dibelakang saya. Saya tetap percaya bahwa dia sangat mencintai saya (entah ini saya yang terlalu PEDE atau bagaimana..hihihi). Tapi, bagi saya ini adalah salah satu tanda bahwa cintamu kepada pasanganmu adalah cinta yang tanpa syarat (saya akan tetap mencintaimu walaupun.....). Ada beberapa ciri lagi, tapi untuk kali ini saya hanya mensharingkan 3 ciri dulu. Saya akan memberi ciri yang lain nanti...hehehehe.... Terimakasih sudah membaca blog saya, Tuhan memberkati

Jumat, 08 Januari 2016

Lulus "ujian" menunujukkan siapa kita dan siapa Dia

Pagi ini, seperti biasa sebelum saya memulai kegiatan, saya memulainya dgn bercakap-cakap bersama Yesus. Ehm, sebelum saya menceritakan lebih lanjut, saya ingin mengungkapkan ini. "Dia selalu menjawab doa kita ketika itu membuatNya senang". Doa saya semalam adl, saya ingin Dia membangunkan saya lebih pagi (antara jam 2-4 am), supaya saya bisa lebih puas berbicara denganNya. Mungkin bagi kebanyakan org ini adl sesuatu yg remeh, tp Dia sungguh2 membangunkan saya diantara jam yg saya minta (saya dibangunkan jam 3:54 am). Krn sebelumnya saya sering bangun "kesiangan"😁 Oke, pagi ini saya merasa sangat puas berbicara denganNya. Dan pagi ini saya merasa hangatnya pelukanNya😊 Lalu pagi ini saya meminta kesabaran dan kekuatan dari Dia utk saya bisa mencerminkan kemuliaanNya. Seperti yg sudah kita tahu, saat kita membuat permintaan seperti itu, tentu akan ada ujiannya. Sebelumnya saya tidak terpikirkan bahwa saya akan diuji hari ini. Daaaaannnn...hari inipun saya diuji dgn kesabaran saya! Ooohh...dan hari ini saya bilang sama Tuhan "Tuhan, beri saya kekuatan utk sabar dan tdk menyalahkan org lain. Saya tahu, saya bisa saja marah dan menyalahkan. Tapi saya mau berjuang utk sabar dan mencoba tidak banyak bicara lalu membela diri" Tahukah kamu, itu bukan tindakan yg mudah khususnya bagi saya. Tapi hari ini saya berhasil!! Setiap kali saya mengingat kejadian ini, saya pasti menangis. Bukan krn sedih, tp krn saya tahu Dia yg memampukan saya. Saya tahu Dialah yg beri kekuatan bagi saya. Emosi dalam diri saya pasti akan meledak dan itu menunjukkan siapa saya jika saya tidak menundukkan diri dihadapanNya. Ujian yg kita alami bukan semata-mata utk membuat kita "naik kelas", tapi ujian itu bisa menunjukkan siapa Dia dan siapa kita. Jika kita berjuang sendiri, siapa kita? Kita bukan manusia yg kuat. Tapi berjuang bersamaNya membuat kita tahu begitu besar, kuat dan perkasanya Dia.

Selasa, 13 Januari 2015

mungkin seperti itu hatiNya

13 Januari 2015hari ini saya akan bercerita tentang anak didik saya (lagi). Sungguh menyenangkan bersama mereka hari ini. Sayapun belajar beberapa hal dari peristiwa yg terjadi didalam kelas saya hari ini. saya akan mulai ceritanya..jeng..jeng.. Ketika jam hampir menunjukkan pukul12.15, itu berarti semua anak harus mengambil tas dan memegâng tali untuk berbaris. Saya berada didepan untuk memegang tali sehingga anak2 tahu dimana mereka harus berbaris. Dan disaat mereka 'berebut' untuk memegang tali, sesuatu terjadi. Salah seorang anak (kita sebut saja A) mencubit pipi anak yg lain (kita sebut saja B), mungkin karena dia ingin ada diposisi anak B. Otomatis anak B menangis dengan kencang karena sakit yg dia rasakan (dan betul, itu pasti sakit. Karena timbul bekas dari cubitan itu). Spontan saya langsung berteriak! "Eeehhh...A!!!!!" Lalu saya menarik tangan anak A, mengatakan bahwa itu BAD (tidak baik). Saya meminta anak A untuk meminta maaf pada anak B. Ketika saya menjelaskan bahwa apa yg dia lakukan itu tidak baik, anak ini justru menangis. Dan jadilah, tangisan semakin kencang karena kedua anak itu menangis. Lalu saya menuju anak B, memeluk dia dan berkata "sakit ya?" Entah kenapa, saya seperti bisa merasakan sakitnya dan ingin menangis juga. Anak B ini kemudian bisa tenang ketika saya memeluknya. Kedua anak itu ada dihadapan saya. Dan saya masih meminta anak A untuk minta maaf, lagi2 dia menolak dengan menangis. Anak B yg mungkin masih tidak bisa melihat anak A karena apa yg dia lakukan, langsung menangis juga (padahal saya sudah bisa menenangkan dia). Akhirnya, saya menggendong anak B kedepan gerbang sekolah dan menunggu orangtuanya menjemput. Setelah orangtua anak B datang, sebenarnya ada rasa takut untuk menjelaskan apa yg terjadi. Tapi saya harus menjelaskan dengan keberanian yg saya tumbuhkan sepersekian detik dari jarak antara gerbang dengan mobil orangtua anak B. Setelah selesai mengantar dan menjelaskan, saya kembali kepada anâҜ A untuk sekali lagi memberi tahu apa yg dia lakukan itu BAD dan saya tidak suka itu. Awalnya dia tidak mau tahu karena dia selalu memalingkan wajahnya. Tapi akhirnya dia menyadari bahwa dia salah, karena saya melihat raut mukanya dan dia tertunduk ketika saya berkata bâhwa saya tidak suka itu. KetIka saya dalam perjalanan pulang dari tempat bekerja, saya kembali mengingat kejadian dikelas. Lalu saya diingatkan bagaimana Tuhan kepada saya. Disaat saya disakiti, dan saya merasa sakit, Tuhan melihat kesakitan saya dan ikut merasakannya. Dia tidak tinggal diam, Dia memeluk saya supaya saya bisa tenang. Ooohhh...Tuhan, jadi mungkin seperti saya merasakan sakit yg dirasakan anak B tadi, Engkaupun memiliki hati seperti itu ketika saya merasakan sakit.. :') saya juga belajar dari kejadian ini, ketika anak B tadi dipeluk oleh saya, dia merasa tenang. Saya juga pasti merasa tenang ketika saya dipeluk oleh Yesus, meskipun masih merasa sakit. Satu lagi, disaat ada orang lain yg menyakiti saya atau kita, sebenarnya Tuhan juga meminta orang yg menyakiti kita untuk meminta maaf pada kita dan tidak melakukannya lagi. Hanya tinggal apakah orang itu seperti anak A tadi atau tidak. Aaahhh....sesederhana itu hati Yesus, dan saya kembali dicerahkan dgn kejadian ini. Seringkali kita tidak mengerti bagaimana Tuhan Yesus itu, tidak perlu berpikir yg terlalu tinggi, hati Yesus bisa kita mengerti ketika kita mau belajar untuk mengenalNya. Thanks Jesus...